No Comments

7 Kriteria Memilih Vendor MPS yang Wajib Kamu Cek Sebelum Teken Kontrak — Nomor 5 Paling Sering Dilewatkan!

Pindah ke Managed Print Services (MPS) atau sewa printer itu keputusan besar. Tapi yang lebih besar lagi? Memilih vendor yang tepat. Soalnya, vendor yang salah bukan cuma bikin biaya cetak tetap tinggi, tapi juga ngerepotin tim operasional kamu setiap bulan.

Sayangnya, banyak perusahaan asal pilih vendor MPS cuma karena harga per lembarnya murah. Padahal, menurut riset dari Quocirca, hampir 40% perusahaan yang beralih ke MPS mengaku kurang puas dengan vendor yang mereka pilih dalam 2 tahun pertama. Alasan utamanya bukan karena teknologinya jelek, tapi karena ekspektasi dan realita di lapangan beda jauh.

Di artikel ini, kita bakal bahas 7 kriteria yang wajib kamu evaluasi sebelum tanda tangan kontrak MPS. Plus ada tips menghindari jebakan yang bikin perusahaan nyesel di kemudian hari. Yuk, simak!

Kenapa Kriteria Vendor MPS Nggak Bisa Disamakan dengan Vendor Biasa?

MPS itu beda dengan sekadar beli printer atau sewa mesin fotocopy biasa. Dalam model MPS, vendor jadi mitra operasional yang mengelola seluruh infrastruktur cetak kamu — mulai dari penyediaan mesin, pasokan toner, perawatan, sampai support teknis. Kalau vendor salah pilih, operasional kantor bisa terganggu. Deadline terhambat, klien kecewa, dan biaya malah bengkak.

Jadi, jangan cuma lihat harga per lembar. Ada 7 hal yang harus kamu cek satu per satu.

7 Kriteria Memilih Vendor MPS / Penyedia Sewa Printer yang Tepat

1. Kejelasan SLA (Service Level Agreement)

SLA adalah jantungnya kontrak MPS. Ini yang membedakan vendor profesional dengan vendor abal-abal. Pastikan SLA mencakup:

  • Response time: Berapa lama vendor merespons setelah laporan kerusakan masuk? Idealnya maksimal 4 jam kerja.
  • Resolution time: Berapa lama target perbaikan? Untuk masalah ringan, target 1×24 jam. Untuk masalah kritis (mesin mati total), maksimal 2×24 jam dengan unit pengganti sementara.
  • Fines & kompensasi: Ada nggak sanksi kalau vendor gagal penuhi SLA? Jangan asal percaya janji — pastikan tertulis hitam di atas putih.

Contoh SLA ideal: “Vendor menjamin response time maksimal 3 jam kerja, teknisi onsite maksimal 6 jam, dan penggantian unit sementara jika perbaikan lebih dari 2 hari.”

2. Transparansi Cost Per Print & Komponen Biaya

Ini jebakan paling umum: harga per lembar murah, tapi di akhir bulan tagihan membengkak karena biaya-biaya lain yang nggak disebut sebelumnya. Minta rincian semua komponen biaya secara transparan:

  • Apakah biaya toner, drum, dan developer sudah termasuk?
  • Apakah ada biaya minimum cetak per bulan (minimum monthly volume)? Kalau cetak di bawah minimum, apa yang terjadi?
  • Apakah biaya kunjungan teknisi sudah include atau ada charge tambahan?
  • Berapa biaya opsi penggunaan kertas dan stapler?

Vendor yang profesional dengan senang hati kasih rincian ini. Kalau mereka ragu-ragu atau jawabannya “nanti kita bahas lebih lanjut”, hati-hati: itu red flag terpercaya!

Biar makin paham soal struktur biaya cetak, kamu bisa cek halaman Cost Per Print Newton — dijelasin secara detail komponen biaya yang sebenarnya harus dihitung sebelum ambil keputusan.

3. Jaringan Layanan & Ketersediaan Suku Cadang

Vendor bisa janji manis di kota besar. Tapi kalau kantor cabang kamu di daerah, pastikan mereka punya jaringan teknisi dan stok suku cadang yang memadai di lokasi tersebut. Beberapa hal yang perlu ditanyakan:

  • Berapa banyak teknisi bersertifikat yang mereka miliki?
  • Apakah mereka punya gudang spare part di kota kamu?
  • Merek printer apa saja yang mereka support? Semakin banyak merek, semakin fleksibel solusinya.

Kalau vendor hanya mengandalkan satu merek atau satu tipe mesin, kamu bakal kesulitan kalau suatu saat butuh upgrade atau penggantian karena keterbatasan stok. Untuk referensi, kamu bisa liat-liat dulu produk printer di halaman printer Canon Indonesia buat gambaran jenis perangkat yang umum dipakai di kantor.

4. Sistem Monitoring & Pelaporan (Print Management Software)

Salah satu keunggulan utama MPS adalah bisa memonitor seluruh aktivitas cetak secara real-time. Tanyakan ke vendor: “Apa platform monitoring yang dipakai? Bisa akses dashboard online untuk lihat usage per departemen, per cabang, atau per pengguna?”

Vendor yang baik biasanya punya sistem yang bisa kasih laporan seperti:

  • Volume cetak per bulan (hitam putih vs warna)
  • Biaya cetak per departemen atau per divisi
  • Peringatan dini saat toner hampir habis atau ada potensi kerusakan
  • Rekomendasi optimasi fleet (pengurangan atau penambahan mesin)

Dengan sistem monitoring yang baik, kamu nggak perlu lagi nebak-nebak soal pengeluaran cetak bulanan. Semua data tersaji jelas dan bisa jadi bahan evaluasi untuk manajemen.

5. Track Record & Referensi Klien (Paling Sering Dilewatkan!)

Ini kriteria yang paling sering dilewatkan, padahal paling penting. Banyak perusahaan langsung setuju kontrak setelah lihat brosur dan simulasi harga tanpa minta referensi klien existing.

Jangan sungkan untuk minta kontak 2–3 klien yang sudah pakai jasa vendor tersebut minimal 1–2 tahun. Tanyakan ke mereka:

  • Apakah SLA dipenuhi sesuai janji?
  • Apakah ada biaya tak terduga yang muncul?
  • Seberapa responsif tim support mereka saat ada masalah?
  • Apakah mereka merekomendasikan vendor ini ke perusahaan lain?

Data dari industri — seperti yang dirilis oleh Keypoint Intelligence — menunjukkan bahwa tingkat retensi klien MPS yang baik adalah di atas 90%. Kalau vendor ragu kasih referensi, atau kliennya banyak yang pindah, itu tanda bahaya.

6. Fleksibilitas Kontrak & Skalabilitas

Bisnis kamu tumbuh, kebutuhan cetak pun berubah. Vendor MPS yang baik harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Perhatikan hal-hal ini:

  • Minimum contract period: Berapa lama kontrak mengikat? Idealnya 2–3 tahun, bukan 5 tahun yang kaku.
  • Early termination clause: Kalau kamu mau keluar lebih awal karena layanan nggak sesuai, apa konsekuensinya? Cari yang fair.
  • Upgrade path: Apakah kamu bisa upgrade ke mesin yang lebih canggih di tengah kontrak? Ada biaya tambahan atau gratis?
  • Add-on services: Bisakah kamu tambah mesin di cabang baru tanpa bikin kontrak baru dari awal?

Vendor yang fleksibel biasanya lebih peduli jangka panjang karena mereka percaya layanan mereka bakal bikin kamu betah. Kalau kontraknya kaku dan penaltinya besar, waspada.

7. Keamanan Data & Kepatuhan Standar

Printer dan mesin fotocopy modern punya hard disk internal yang menyimpan salinan setiap dokumen yang dicetak, discan, atau difotokopi. Kalau vendor nggak punya prosedur pengamanan data, dokumen rahasia perusahaan — mulai dari laporan keuangan sampai data klien — bisa bocor tanpa kamu sadari.

Pastikan vendor menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah mereka punya fitur secure printing (cetak harus pakai PIN atau kartu)?
  • Apakah mereka melakukan data wiping secara rutin pada hard disk mesin?
  • Apakah mereka punya sertifikasi keamanan atau compliance (ISO 27001, dll)?

Di era di mana kebocoran data bisa bikin perusahaan rugi miliaran rupiah, aspek keamanan ini nggak bisa ditawar. Jangan sampai kamu baru sadar setelah ada insiden.

Tabel Perbandingan: Vendor MPS Ideal vs Vendor yang Perlu Diwaspadai

KriteriaVendor MPS IdealVendor yang Perlu Diwaspadai
SLAJelas, tertulis, ada sanksiJanji lisan, nggak ada detail
Cost Per PrintTransparan, semua biaya breakdownCuma sebut harga, banyak exclude
Jaringan serviceTeknisi di semua kota, stok spare part lokalOutsource, unit datang dari luar kota
MonitoringDashboard online real-time + laporan otomatisNggak ada, atau lewat telepon doang
Referensi klienBisa kasih 2-3 kontak klien existingRagu-ragu, alasan privasi
Fleksibilitas kontrak2-3 tahun, ada opsi terminasi yang fair5 tahun, penalti besar kalau keluar
Keamanan dataSecure printing + data wiping + ISO“Nanti aja dibahas”

Red Flags yang Wajib Kamu Waspadai

Selain 7 kriteria di atas, ada beberapa red flag yang langsung jadi alarm kalau kamu nemuin saat evaluasi vendor:

  • Vendor terlalu fokus jual mesin, bukan solusi. MPS itu soal layanan, bukan sekadar mesin baru.
  • Sales-nya janji di luar nalar, kayak “semua gratis” atau “tidak ada biaya apa pun”.
  • Nggak mau audit awal. Vendor profesional pasti mau audit infrastruktur cetak kamu sebelum kasih proposal.
  • Review online buruk konsisten. Cek Google Reviews, testimoni, atau tanya di forum LinkedIn.

Kesimpulan: Jangan Asal Pilih, Evaluasi Secara Menyeluruh

Memilih vendor MPS itu seperti milih mitra bisnis — bukan sekadar penyedia jasa cetak. Keputusan yang salah bisa bikin biaya operasional membengkak, produktivitas turun, dan kepala pusing tiap akhir bulan pas liat tagihan.

Gunakan 7 kriteria di atas sebagai checklist evaluasi vendor kamu. Kalau masih ragu atau mau konsultasi gratis, tim Newton siap bantu kamu menganalisis kebutuhan cetak dan membandingkan opsi yang paling pas untuk perusahaan kamu. Kunjungi halaman Managed Print Services Newton untuk info lebih lengkap.

FAQ Seputar Memilih Vendor MPS & Sewa Printer

1. Berapa lama kontrak MPS yang ideal untuk perusahaan skala menengah?
Idealnya 2–3 tahun. Kontrak 1 tahun terlalu singkat untuk vendor balik modal investasi mesin, sementara 5 tahun terlalu kaku buat perusahaan yang pertumbuhannya dinamis. Pilih yang ada opsi evaluasi harga di tahun ke-2 atau ke-3.

2. Apa bedanya sewa printer biasa dengan Managed Print Services?
Sewa printer biasa umumnya cuma nyediain mesin — toner, service, dan spare part dipisah. MPS adalah paket lengkap: mesin + toner + perawatan + monitoring + teknisi dalam satu harga per lembar. Lebih simpel, lebih terprediksi biayanya.

3. Apakah perusahaan kecil (10–20 karyawan) tetap perlu MPS?
Bisa banget. Bahkan, UKM sering lebih diuntungkan karena MPS menghilangkan kebutuhan stok toner, kontrak teknisi terpisah, dan beban administrasi. Banyak penyedia MPS — termasuk Newton — punya paket khusus untuk skala kecil dengan CPP yang kompetitif.

4. Bagaimana cara membandingkan harga CPP antar vendor secara fair?
Minta rincian hitam putih dan warna secara terpisah. Jangan bandingkan harga rata-rata karena komposisi cetaknya bisa beda. Gunakan volume cetak aktual kamu (3–6 bulan terakhir) sebagai dasar simulasi, lalu bandingkan total biaya per bulan, bukan cuma harga per lembarnya.

Kalau kamu butuh panduan lebih detail soal hitungan cost per print, kunjungi halaman Cost Per Print Newton — ada simulasi dan komponen biaya yang bisa langsung kamu pakai buat evaluasi vendor.