No Comments

6 Langkah Membuat Kebijakan Cetak Perusahaan yang Bisa Potong Biaya 30% dalam Sebulan (Panduan Lengkap 2026)

Pernah nggak sih, kamu merasa biaya operasional kantor terus membengkak tapi bingung从哪里 mulainya? Kalau ditelusuri, salah satu pos pengeluaran yang paling sering luput dari perhatian adalah biaya cetak. Banyak perusahaan menghabiskan jutaan rupiah per bulan untuk printer, toner, kertas, dan perbaikan — tanpa ada aturan yang jelas siapa mencetak apa, kapan, dan berapa banyak.

Nah, solusinya sederhana tapi dampaknya besar: membuat kebijakan cetak (print policy) perusahaan. Di artikel ini, kamu bakal dapet panduan langkah demi langkah yang udah terbukti bisa memotong biaya cetak hingga 30% dalam waktu satu bulan — tanpa perlu ganti semua printer atau bikin karyawan protes.

Apa Itu Kebijakan Cetak Perusahaan?

Kebijakan cetak perusahaan atau print policy adalah seperangkat aturan dan prosedur yang mengatur bagaimana dokumen dicetak, oleh siapa, dengan perangkat apa, dan dalam jumlah berapa. Ini bukan sekadar “jangan boros kertas” yang nggak jelas ukurannya, tapi sebuah sistem terstruktur yang mencakup:

  • Batas volume cetak per karyawan atau per departemen
  • Aturan cetak warna vs hitam putih
  • Kewajiban cetak dua sisi (duplex)
  • Prosedur persetujuan untuk cetak dokumen tertentu
  • Penggunaan print server atau sistem print management

Menurut riset dari IBM tentang print management, perusahaan yang menerapkan kebijakan cetak terstruktur berhasil menekan biaya operasional percetakan hingga 30%. Bahkan untuk bisnis skala kecil-menengah, penghematannya tetap signifikan — bisa mencapai jutaan rupiah per tahun.

6 Langkah Membuat Kebijakan Cetak Perusahaan yang Efektif

Berikut panduan praktis yang bisa langsung kamu terapkan di kantor kamu minggu depan.

Langkah 1: Audit Biaya Cetak Saat Ini

Sebelum membuat aturan, kamu harus tahu dulu posisi kamu sekarang. Lakukan audit sederhana dengan mengumpulkan data berikut:

ItemYang Perlu DicatatContoh Angka
Jumlah printer aktifTotal unit per departemen5 unit (3 HRD, 2 Finance)
Volume cetak per bulanTotal lembar per warna/Hitam Putih4.500 lembar (3.000 HP, 1.500 warna)
Biaya toner/tintaPengeluaran per bulanRp 1.200.000
Biaya kertasRim yang dipakai x harga9 rim x Rp 55.000 = Rp 495.000
Biaya servis & perbaikanRata-rata per bulanRp 350.000

Dengan data ini, kamu bisa tahu baseline biaya cetak kamu. Kalau belum punya data detail, kamu bisa minta bantuan tim Managed Print Services Newton untuk audit gratis — mereka udah berpengalaman ngelakuin ini di puluhan perusahaan di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Langkah 2: Tentukan Aturan Dasar Cetak

Berdasarkan data audit, kamu bisa mulai merumuskan aturan. Beberapa aturan dasar yang paling efektif menurut pengalaman kami:

  1. Wajib duplex (cetak dua sisi) untuk semua dokumen internal. Ini aja bisa menghemat biaya kertas hingga 50%.
  2. Cetak warna hanya untuk presentasi eksternal atau dokumen klien. Bikin aturan bahwa cetak warna harus dapat persetujuan supervisor dulu.
  3. Terapkan sistem pull printing atau secure printing. Karyawan harus scan ID card dulu di printer baru dokumen keluar. Ini mencegah dokumen nganggur di tray printer dan mengurangi cetak sembarangan.
  4. Batas volume per karyawan. Misalnya 200 lembar per bulan untuk staf, 500 untuk manajer. Kalau lebih, harus ada alasan yang jelas.

Dari pengalaman menangani berbagai klien, Newton melihat bahwa langkah nomor 3 — pull printing — adalah yang paling efektif karena langsung menghilangkan kebiasaan “cetak lalu lupa ambil” yang ternyata bisa menyumbang 10-15% dari total biaya cetak.

Langkah 3: Standarisasi Perangkat Printer

Salah satu masalah terbesar di banyak perusahaan adalah terlalu banyak jenis printer yang dipakai. Ada yang punya printer inkjet pribadi, ada yang laser, ada yang multifungsi — masing-masing dengan biaya operasional berbeda. Hasilnya: biaya perawatan membengkak dan stok toner jadi kacau.

Standarisasi perangkat ke 1-2 model yang sama dari merek terpercaya seperti Canon, Epson, atau Brother bisa langsung menurunkan biaya operasional. Kenapa? Karena:

  • Stok toner/cartridge lebih mudah dikelola
  • Teknisi cuma perlu hafal satu atau dua tipe mesin
  • Kamu bisa beli spare part dalam jumlah grosir dengan harga lebih murah

Langkah 4: Pilih Model Pengadaan — Beli, Sewa, atau MPS?

Ini keputusan krusial. Banyak perusahaan mikir “ya beli aja sekalian” tanpa menghitung biaya total kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO). Padahal, untuk jangka panjang, model managed print services (MPS) seringkali lebih hemat karena sudah include toner, servis, dan mesin pengganti kalau rusak.

Coba lihat perbandingan sederhananya:

AspekBeli PrinterSewa Printer BiasaMPS (seperti Newton)
Biaya awalTinggi (beli mesin)Rendah (deposit)Rendah (bulanan)
Biaya tonerDitanggung sendiriInclude / terpisahInclude
Servis & perbaikanDitanggung sendiriBiasanya includeInclude + unit pengganti
Monitoring cetakTidak adaTidak adaAda (dashboard)
Kepatuhan policySulit diterapkanSulit diterapkanMudah (via software)

Dengan MPS, kebijakan cetak kamu bisa di-enforce langsung lewat software — misalnya batasi cetak warna, batasi jumlah per user, atau blokir cetak di jam tertentu. Ini yang bikin banyak perusahaan akhirnya beralih ke model sewa printer dengan MPS.

Langkah 5: Sosialisasikan dan Minta Komitmen

Kebijakan cetak yang bagus nggak akan berfungsi kalau karyawan nggak tahu atau nggak setuju. Cara terbaik: sosialisasikan secara bertahap.

  • Adakan briefing singkat di morning meeting — jelaskan why-nya, bukan cuma what-nya. Karyawan perlu paham bahwa kebijakan ini bukan untuk “mengekang” mereka, tapi untuk memastikan budget perusahaan dipakai seefisien mungkin.
  • Tempel panduan singkat di dekat printer atau kirim lewat email internal.
  • Kasih reward untuk departemen yang paling hemat dalam pemakaian cetak tiap bulan. Trik ini terbukti meningkatkan kepatuhan secara signifikan.

Minta juga feedback dari karyawan — mungkin ada aturan yang kurang praktis dan perlu disesuaikan. Kebijakan yang baik adalah yang hidup, bukan sekadar dokumen yang tersimpan di folder Google Drive.

Langkah 6: Evaluasi Rutin dan Iterasi

Bulan pertama setelah kebijakan diterapkan, evaluasi hasilnya. Bandingkan data cetak sebelum dan sesudah. Kalau target penghematan 30% belum tercapai, cek lagi langkah mana yang kurang optimal. Mungkin batas cetak per karyawan terlalu longgar, atau mungkin aturan cetak warna belum diikuti dengan baik.

Evaluasi rutin setiap 3 bulan sekali. Dan jangan lupa — teknologi juga terus berkembang. Printer baru mungkin lebih hemat energi, fitur cloud printing mungkin bisa dipakai untuk mengurangi jumlah printer fisik, dan sebagainya.

Kebijakan Cetak yang Efektif Juga Meningkatkan Produktivitas

Yang menarik, perusahaan yang menerapkan kebijakan cetak nggak cuma hemat biaya — mereka juga melaporkan peningkatan produktivitas. Kenapa? Karena karyawan nggak lagi buang waktu nunggu printer yang macet, nggak ada lagi rebutan printer warna, dan dokumen yang dicetak benar-benar dokumen yang penting. Printer jadi alat, bukan sumber masalah.

FAQ Seputar Kebijakan Cetak Perusahaan

1. Apakah perusahaan kecil (10-20 karyawan) perlu kebijakan cetak?

Sangat perlu. Justru karena skala kecil, setiap rupiah berarti. Misalnya, perusahaan dengan 15 karyawan yang masing-masing mencetak 150 lembar per bulan bisa menghabiskan Rp 4-6 juta per tahun hanya untuk cetak. Dengan kebijakan sederhana seperti duplex dan pembatasan cetak warna, penghematan 20-30% sangat realistis.

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil penghematan?

Biasanya di bulan pertama kamu sudah bisa melihat perbedaan. Setelah kebijakan berjalan 2-3 bulan, penghematan biasanya mencapai puncaknya karena karyawan sudah terbiasa. Beberapa klien Newton melaporkan penghematan 25-30% di bulan ketiga setelah penerapan print policy yang terintegrasi dengan sistem MPS.

3. Software apa yang bisa dipakai untuk mengelola kebijakan cetak?

Ada beberapa pilihan seperti PaperCut, Print Manager Plus, atau solusi dari vendor printer seperti Canon UniFLOW. Tapi kalau kamu pakai layanan MPS dari Newton, software monitoring dan rule enforcement sudah include — kamu tinggal tentuin aturannya, tim Newton yang bantu konfigurasi. Ini jauh lebih praktis daripada beli lisensi software sendiri lalu repot ngurus instalasinya.

4. Apakah kebijakan cetak bakal bikin karyawan kesal?

Awalnya mungkin ada resistensi, itu wajar. Tapi kalau dikomunikasikan dengan baik — misalnya dengan menjelaskan bahwa dana yang dihemat bisa dipakai untuk budget lain seperti training atau team building — karyawan biasanya paham. Kuncinya: libatkan mereka dalam proses pembuatan aturan, jangan cuma top-down.

5. Kapan waktu yang tepat untuk merevisi kebijakan cetak?

Idealnya setiap 6 bulan atau setiap kali ada perubahan signifikan — misalnya penambahan karyawan baru, pembukaan cabang baru, atau pergantian perangkat printer. Kebijakan cetak bukan dokumen statis; ia harus beradaptasi dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.

Kesimpulan: Mulai dari Langkah Kecil, Dampaknya Besar

Membuat kebijakan cetak perusahaan bukanlah proyek yang rumit. Mulai dari audit kecil-kecilan, tetapkan aturan sederhana, lalu evaluasi. Kombinasikan dengan model pengadaan yang tepat — entah beli, sewa, atau MPS — dan kamu bakal lihat sendiri perbedaannya.

Tim Newton udah membantu puluhan perusahaan di Jabodetabek untuk mengoptimalkan biaya cetak mereka lewat Managed Print Services. Mulai dari audit gratis, konsultasi kebijakan cetak, sampai implementasi sistem monitoring — semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan kamu.

Kalau pengeluaran cetak kantor kamu terasa membengkak tanpa tahu penyebab pastinya, sekarang saatnya kamu bertindak. Satu kebijakan cetak yang baik bisa menghemat ratusan juta rupiah dalam setahun — dan Newton siap bantu kamu mulai dari sekarang.

WhatsApp 087 888 090 900