No Comments

Audit Biaya Cetak Kantor: 5 Langkah Sederhana Bongkar Pemborosan (Nomor 3 Paling Sering Dilewatin!)

Kamu Tahu Gak? Kantor Kamu Mungkin Udah Boncos Ratusan Ribu Per Bulan Cuma Buat Cetak

Bulan lalu saya ngobrol sama pemilik perusahaan kreatif di Jakarta Selatan. Kantornya kecil — 15 orang. Dia cerita, “Saya bingung, biaya operasional naik terus. Printer ganti kartrid hampir tiap 2 minggu. Aneh banget rasanya.”

Saya tanya balik, “Kamu tahu berapa total pengeluaran cetak sebulan?”

Dia diem. Gak tahu.

Nah, ini masalahnya. Dari survey Newton ke 50 kantor di Jakarta, 7 dari 10 gak tahu persis biaya cetak bulanan mereka. Tahu cuma pas beli tinta atau pas manggil teknisi. Tapi gak pernah ngitung totalnya.

Padahal rata-rata kantor ukuran kecil (10-30 karyawan) bisa boncos Rp 2-5 juta per bulan buat cetak aja. Dan 30% dari itu sebenernya bisa dihemat!

Makanya saya mau kasih kamu 5 langkah audit biaya cetak sederhana yang bisa kamu lakuin sendiri. Modal catatan dan kalkulator aja.

Kenapa Kamu Harus Audit Sekarang?

Banyak yang kira biaya cetak itu cuma pas beli printer dan tinta doang. Padahal ada yang namanya Total Cost of Ownership (TCO) — biaya total dari beli printer sampai printer itu pensiun. Komponennya gak sesimpel yang kamu kira:

  • Hardware — harga beli atau sewa printer
  • Consumables — tinta, toner, kertas, drum, developer
  • Maintenance — panggil teknisi, ganti spare part
  • Energy — listrik buat nyalain printer tiap hari
  • Downtime — kalau printer rusak, produktivitas karyawan ilang
  • Labor — waktu staf kamu yang kepake ngurusin printer

Coba bayangin: printer rusak 2 hari, 5 karyawan gak bisa cetak dokumen penting. Itu kerugian produktivitas setara Rp 1-2 juta. Belum lagi biaya service dan ganti part-nya. Makanya audit tuh penting banget — biar kamu sadar ada pos pemborosan yang selama ini gak keliatan.

Langkah 1: Catat Semua Perangkat Cetak yang Ada

Mulai dari hal paling dasar. Kelilingin kantor, catat semua printer, fotocopy, mesin fax — apa aja yang bisa cetak. Jangan lupa catat juga:

  • Merek dan tipe
  • Tanggal beli atau mulai sewa
  • Kondisi terakhir (sering rusak gak?)
  • Lokasi (di lantai berapa, di ruang mana)

Tips: Kamu bakal kaget sendiri. Banyak kantor nemu printer yang gak kepake selama berbulan-bulan tapi tetap nyala dan makan listrik. Ada juga printer yang dipake rame-rame sampe overload, sementara di sebelahnya ada printer nganggur.

Langkah 2: Hitung Volume Cetak Bulanan

Ini yang paling penting. Cari tahu berapa lembar rata-rata yang dicetak tiap bulan. Caranya:

  • Lihat counter di menu printer (biasanya ada di Settings > Reports > Usage Log)
  • Atau catat aja manual selama 2 minggu — siapa aja yang cetak, berapa lembar, warna atau hitam putih

Dari data ini, kamu bisa liat pola pemakaian. Apakah printer tertentu terlalu sering dipake sampe overload? Atau ada printer yang lebih banyak nganggurnya daripada dipakenya?

Langkah 3: Hitung Biaya Per Lembar (Cost Per Print)

Nah, ini dia yang paling sering dilewatin. Banyak orang ngitung biaya cetak cuma dari harga tinta dibagi jumlah lembar. Padahal ada komponen lain:

Rumus sederhana Cost Per Print:

(Harga toner / Yield toner) + (Harga spare part per tahun / 12 / volume bulanan) + (Biaya teknisi per tahun / 12 / volume bulanan) + (Biaya listrik per bulan / volume bulanan)

Kelihatan ribet? Iya, memang. Tapi percaya deh, rata-rata cost per print kantor di Jakarta itu Rp 300-800 per lembar untuk hitam putih, dan Rp 1.500-3.000 untuk warna. Kalau kamu bayar di atas itu, berarti ada pemborosan.

Langkah 4: Identifikasi Printer yang Gak Efisien

Setelah kamu tahu cost per print masing-masing printer, bandingin. Biasanya ketemu pola kayak gini:

  • Printer pribadi (personal printer) — cost per print-nya paling mahal. Toner kecil, yield rendah, per lembarnya jadi mahal
  • Printer multifungsi (kantor) — lebih murah per lembarnya, tapi boros kalau kapasitas gak sesuai kebutuhan
  • Printer lawas (3+ tahun) — komponen udah mulai aus, makin sering rusak, biaya makin tinggi

Di sinilah biasanya ketemu: “Oh, ternyata printer di lantai 3 itu cost per print-nya Rp 2.500 per lembar — 3 kali lipat dari printer di lantai 1!”

Langkah 5: Buat Rencana Optimasi

Setelah semua data terkumpul, kamu bisa ambil keputusan:

  • Konsolidasi perangkat — ganti 5 printer kecil dengan 2 printer multifungsi yang lebih efisien
  • Evaluasi sewa vs beli — kalau cost per print-nya masih tinggi, mungkin lebih murah sewa sekalian maintenance dan tonernya include
  • Atur kebijakan cetak — biasain print bolak-balik, hitam putih untuk dokumen internal, warna hanya untuk klien

Daripada kamu pusing sendiri ngitung TCO dan cost per print, tim Newton bisa bantu assessment gratis. Kami bakal audit armada printer kamu, hitung biaya aktualnya, dan kasih rekomendasi yang jelas tanpa push jualan. Santai aja.

Yang mau coba, tinggal hubungi 087 888 090 900 atau [email protected]. Gratis, kok.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Apa itu Total Cost of Ownership (TCO) printer kantor dan kenapa penting?

TCO adalah total biaya dari beli printer sampai printer itu pensiun, mencakup hardware, consumables (tinta/toner/kertas), maintenance, energy (listrik), downtime (produktivitas hilang saat rusak), dan labor (waktu staf urus printer). Penting karena banyak kantor cuma lihat harga printer dan tinta, padahal 30% biaya cetak sebenarnya bisa dihemat kalau TCO dihitung dengan benar.

Berapa rata-rata biaya cetak per lembar di kantor Jakarta?

Rata-rata cost per print kantor di Jakarta adalah Rp 300-800 per lembar untuk hitam putih, dan Rp 1.500-3.000 per lembar untuk warna. Kalau biaya cetak kamu di atas angka itu, berarti ada pemborosan yang perlu dievaluasi.

Langkah apa yang paling sering dilewatkan saat audit biaya cetak?

Langkah nomor 3 — menghitung Cost Per Print (biaya per lembar) dengan rumus lengkap. Banyak orang cuma ngitung dari harga tinta dibagi jumlah lembar, padahal harusnya mencakup spare part, biaya teknisi, dan listrik. Rumusnya: (Harga toner / Yield toner) + (Harga spare part per tahun / 12 / volume bulanan) + (Biaya teknisi per tahun / 12 / volume bulanan) + (Biaya listrik per bulan / volume bulanan).

Apa yang harus dilakukan setelah selesai audit biaya cetak?

Setelah data terkumpul, langkah optimasi meliputi: konsolidasi perangkat (ganti 5 printer kecil dengan 2 printer multifungsi yang lebih efisien), evaluasi sewa vs beli, dan atur kebijakan cetak seperti print bolak-balik (duplex) dan hitam putih untuk dokumen internal.

Bagaimana cara mulai audit biaya cetak di kantor?

Mulai dari Langkah 1: catat semua perangkat cetak di kantor (merek, tipe, tanggal beli, kondisi, lokasi). Lanjut ke Langkah 2: hitung volume cetak bulanan lewat counter printer atau catatan manual 2 mingguan. Banyak kantor terkejut menemukan printer yang tidak dipakai berbulan-bulan tapi tetap menyala dan makan listrik.

📥 Mau tahu lebih lanjut tentang solusi cetak Newton?

Unduh Company Profile, Price List, dan brosur promo Newton secara gratis untuk membandingkan opsi terbaik bagi kebutuhan cetak kantormu.

Sumber & Referensi

WhatsApp 087 888 090 900